Tradisi Jangan Sampai Menyalahi Norma Agama

Kepala Dinas Kerohanian HMJ Administrasi Negara

Fauzi Ahmad
Mantan Ketua OSIS SMA Negeri 2 Kampar – Airtiris (2009-2010)

     Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Semua umat islam sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk menyambut bulan suci dan agung ini, baik mempersiapkan jiwa raganya maupun ekonominya. Di masyarakat Kabupaten Kampar ada sebuah tradisi khusus yang dilakukan untuk menyambut bulan suci ini yang disebut dengan Balimau Kasai. Balimau Kasai ini adalah sebuah tradisi menjalang mintuo dan acara mandi untuk membersihkan diri yang dilakukan ditepian sungai kampar. Ritual ini sudah ada sejak zaman dahulu dan turun temurun sampai ke era milenium sekarang ini. Namun, saat ini pelaksanaannya sudah tidak lagi sama dengan yang dilakukan oleh orang terdahulu. Sekarang ritual ini sudah jauh melenceng bahkan melanggar norma agama. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan balimau kasai itu sendiri.

     Di era milenium ini, Balimau Kasai dilaksanakan dengan berbagai kegiatan selain dari acara intinya. Dilokasi terdapat berbagai macam hiburan seperti organ tunggal, calempong, gubano dan lain sebagainya sebagai alat pemancing orang agar datang kesana. Namun tak dapat pula dipungkiri bahwa dibelakang itu semua terdapat sejuta pelanggaran yang tidak sepantasnya terjadi. Anak muda kesana kemari dengan pasangannya masing-masing dengan mengkambing hitamkan tradisi tersebut. Bahkan yang sangat memalukannya lagi adalah laki-laki dan perempuan mandi bercampur baur yang bukan muhrimnya di sungai kampar itu.

     Kontras dengan pelaksanaannya dengan zaman dahulu. Zaman dahulu, pada hari balimau kasai ini para menantu mengunjungi rumah mertuanya untuk berma’afan, seorang murid mendatangi rumah gurunya, yang muda mengunjungi yang tua untuk minta maaf agar bisa memasuki bulan ramadhan dengan hati yang berkerelaan. Namun saat ini yang terjadi bukan itu, yang terjadi adalah anak muda sibuk mencari lokasi yang sesuai atau yang cocok untuk dikunjunginya bersama pasangannya nanti. Bahkan remaja itu akan pusing alias poniong jika ia tidak memiliki pasangan pada acara balimau kasai itu. Seolah-olah tradisi ini menjadi ajang atau kesempatan untuk berkencan dengan pasangannya masing-masing. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, haruskah tradisi ini perlu kita pertahankan? Atau perlukah kita merevisi pelaksanaannya agar tidak terjadi pelanggaran norma?

     Dalam pidatonya Fauzi Ahmad mengingatkan kepada sahabat-sahabatnya agar tidak terbawa arus seperti itu. Dia mengimbaukan kepada semua masyarakat kamapar agar tradisi ini jangan sampai menyalahi norma agama. Mari kita kembalikan kefitrahan tradisi ini agar Allah tetap meridhoi kita yang tinggal di buminya ini.

BM 0213 DN

🙂 FA Sang Birokrat

“Santun dan Bersahabat”

By sangbirokrat Posted in Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s